Kondisi tersebut membuat Valve mengambil langkah alternatif selama pengujian. Steam Machine harus divalidasi melalui Windows karena testing melalui Linux belum stabil. Valve memastikan Steam Machine tetap dapat bekerja melalui jalur aman, termasuk fitur HDMI berbasis driver proprietary. Namun, untuk rilis final, Steam Machine tetap menggunakan SteamOS dan driver open-source. Celah inilah yang membuat Steam Machine terlihat belum optimal.
Valve berupaya untuk membuka batasan tersebut. Steam Machine akhirnya mendapatkan kemampuan menampilkan resolusi 4K dengan refresh rate 120Hz melalui teknik chroma subsampling. Cara ini memungkinkan Steam Machine mencapai output HDMI 2.1 meski hanya mengandalkan bandwidth HDMI 2.0. Steam Machine berhasil menghasilkan mode tampilan lebih tinggi daripada batas standar, namun ada kompromi dalam kualitas warna. Ini merupakan keputusan tak terhindarkan agar Steam Machine dapat memenuhi kebutuhan gamer.
Chroma subsampling mengurangi detail warna untuk menghemat bandwidth. Steam Machine memaksimalkan trik ini agar tetap dapat menawarkan pengalaman visual tinggi. Beberapa penguji menganggap dampak penurunan kualitas gambar pada Steam Machine tidak terlalu signifikan. Hanya teks tertentu yang terlihat lebih kabur. Gamer Steam Machine sebenarnya dapat menghindari masalah ini dengan menggunakan DisplayPort 1.4. Port ini tersedia di Steam Machine dan memiliki bandwidth lebih besar dibanding HDMI 2.1.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.







