Di sisi lain, Logic Theorist yang dikembangkan oleh Allen Newell dan timnya mencoba meniru langkah-langkah berpikir manusia dalam memecahkan persoalan logika matematika.
Para peneliti kala itu bahkan memprediksi bahwa dalam 20 tahun, mesin akan menyamai kecerdasan manusia. Namun, optimisme ini ternyata terlalu ambisius.
AI Winter: Ketika Harapan Mulai Membeku
Memasuki 1970-an hingga 1980-an, keterbatasan teknologi komputer menjadi penghambat utama. Algoritma AI yang kompleks membutuhkan daya komputasi dan memori yang saat itu belum tersedia.
Laporan kritis dari Sir James Lighthill pada tahun 1973 menyebut bahwa klaim AI terlalu dibesar-besarkan dan belum menunjukkan hasil nyata. Dampaknya, pendanaan riset AI dipangkas besar-besaran, terutama di Inggris dan Amerika Serikat. Periode ini dikenal sebagai AI Winter.
Kebangkitan Machine Learning dan Kemenangan Deep Blue
AI mulai bangkit kembali pada 1990-an, didorong oleh kemajuan prosesor, memori, dan komputasi paralel. Pendekatan machine learning (ML) mulai menggantikan sistem berbasis aturan kaku.
Puncak perhatian publik terjadi pada 1997, saat Deep Blue, komputer catur IBM, mengalahkan Garry Kasparov, juara dunia catur. Meski masih mengandalkan brute force dan expert system, kemenangan ini menjadi simbol bahwa mesin mampu menandingi manusia dalam strategi kompleks.
Deep Learning dan Revolusi Data Besar
Awal 2000-an menandai era baru. Pada 2006, Geoffrey Hinton memperkenalkan kembali konsep deep learning, yaitu machine learning berbasis jaringan saraf berlapis. Pendekatan ini memungkinkan AI belajar langsung dari data mentah.
Momentum besar terjadi pada 2012, saat AlexNet memenangkan kompetisi pengenalan gambar, membuktikan bahwa kombinasi big data, GPU, dan deep learning mampu menghasilkan AI yang jauh lebih akurat.







