Jika internet seluler merevolusi cara manusia berkomunikasi dan mengakses informasi, maka AI robotika berpotensi merevolusi cara manusia bekerja, memproduksi barang, memberikan layanan, dan berinteraksi dengan lingkungan fisik.
Transformasi ini tidak hanya terjadi di ruang digital, tetapi juga di pabrik, rumah sakit, gudang logistik, hingga ruang publik.
Realokasi Modal dan Sumber Daya Global
Wang memproyeksikan bahwa ketika terobosan teknologi tercapai, lebih dari separuh sumber daya dunia bisa diarahkan ke sektor ini. Hal ini mencerminkan potensi pergeseran investasi global dari sektor digital murni ke sektor integrasi AI-fisik.
Para analis industri menilai bahwa robotika berbasis AI dapat membuka peluang pasar bernilai triliunan dolar dalam beberapa dekade mendatang, terutama jika biaya produksi terus menurun dan kemampuan model AI semakin canggih.
Tantangan dan Risiko yang Perlu Diantisipasi
Meski optimistis, pengembangan AI robotika skala besar tetap menghadapi sejumlah tantangan.
Hambatan Teknologi
Terobosan dalam model AI skala besar untuk robot membutuhkan integrasi perangkat keras, sensor, komputasi edge, dan algoritma pembelajaran mesin yang efisien. Kompleksitas ini membuat pengembangan embodied AI jauh lebih menantang dibandingkan pengembangan aplikasi digital murni.
Regulasi dan Etika
Selain aspek teknis, isu regulasi dan etika juga menjadi perhatian. Penggunaan robot otonom dalam industri dan ruang publik memerlukan kerangka hukum yang jelas untuk menjamin keselamatan dan keamanan.
China dan sejumlah negara lain kini tengah menyusun regulasi AI yang menyeimbangkan inovasi dan pengawasan.
Prospek Masa Depan: Menuju Gelombang Ekonomi Baru
Pernyataan Wang Xingxing menegaskan bahwa dunia mungkin sedang memasuki fase awal revolusi teknologi berikutnya. Jika internet seluler menjadi fondasi ekonomi digital modern, maka AI robotika berpotensi menjadi fondasi ekonomi fisik-digital terintegrasi.
Dengan dukungan kebijakan nasional seperti “AI Plus”, investasi besar dari sektor swasta, dan percepatan inovasi model AI, China berambisi menjadi pemain utama dalam revolusi ini.
Bagi pelaku industri global, perkembangan embodied AI menjadi indikator penting arah investasi teknologi dalam dekade mendatang.
Kesimpulan
AI robotika disebut akan melampaui era internet seluler oleh CEO Unitree Robotics, Wang Xingxing, dalam wawancara dengan CCTV. Ia menilai bahwa embodied AI masih berada dalam tahap awal dan berpotensi memicu realokasi besar-besaran sumber daya global jika terobosan model AI skala besar tercapai.
Didukung strategi nasional China melalui “AI Plus” dan momentum pertumbuhan sektor AI domestik, robotika berbasis kecerdasan buatan diproyeksikan menjadi motor ekonomi baru dunia. Namun, tantangan teknologi, regulasi, dan implementasi skala besar tetap menjadi faktor penentu keberhasilan revolusi ini.







