Dari Metaverse ke AI: Meta Ubah Strategi Besar Setelah Investasi VR Tak Berbuah

Meta mengubah fokus bisnis dari metaverse ke AI setelah Reality Labs mencatat kerugian puluhan miliar dolar dan adopsi VR tak sesuai harapan.

Dari Metaverse ke AI: Meta Ubah Strategi Besar Setelah Investasi VR Tak Berbuah
Dari Metaverse ke AI: Meta Ubah Strategi Besar Setelah Investasi VR Tak Berbuah

Dari Metaverse ke AI: Meta Ubah Strategi Besar Setelah Investasi VR Tak Berbuah

Info Tekno > Sekitar empat tahun setelah Mark Zuckerberg mengumumkan transformasi Facebook menjadi Meta dengan visi besar metaverse, arah strategi perusahaan teknologi raksasa ini kembali berubah drastis. Ambisi menjadikan dunia virtual sebagai masa depan internet kini meredup, digantikan oleh fokus baru yang jauh lebih pragmatis: kecerdasan buatan (AI).

Perubahan arah ini terlihat jelas dari langkah Meta memangkas ribuan karyawan di divisi Reality Labs, menutup sejumlah studio pengembang virtual reality (VR), serta mengalihkan investasi besar ke pengembangan teknologi AI. Langkah tersebut menegaskan bahwa proyek metaverse, setidaknya dalam bentuk awalnya, belum mampu memenuhi ekspektasi bisnis maupun adopsi pasar.

Reality Labs Dipangkas, Ribuan Pekerjaan Hilang

Meta dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan, yang mencakup sekitar 10 persen divisi hardware. Divisi ini selama ini bertanggung jawab mengembangkan perangkat VR seperti headset Quest dan platform dunia virtual Horizon Worlds.

Studio VR Ditutup dan Proyek Dihentikan

Sejumlah studio internal yang sebelumnya mengembangkan konten VR resmi ditutup, di antaranya Armature Studio, Twisted Pixel, Sanzaru, serta Oculus Studios Central Technology. Pemangkasan juga terjadi di studio lain seperti Ouro Interactive, yang baru dibentuk pada 2023 untuk memperkaya konten Horizon Worlds.

Baca Juga  Sejarah Mendalam Kecerdasan Buatan (AI) dari Filsafat ke Era Deep Learning

Salah satu sinyal paling kuat dari penurunan ambisi metaverse adalah keputusan Meta memindahkan aplikasi kebugaran VR Supernatural ke mode pemeliharaan. Aplikasi yang diakuisisi senilai USD 400 juta pada 2023 ini kini hanya dikelola tim inti kecil tanpa pengembangan konten baru.

Metaverse Tak Pernah Benar-Benar Menjadi Arus Utama

Secara strategis, kegagalan metaverse bukan semata soal teknologi, melainkan juga adopsi pengguna. Meski Meta menghabiskan dana besar untuk mengembangkan VR, platform seperti Horizon Worlds tidak pernah mampu menarik basis pengguna signifikan.

Sebagai perbandingan, Roblox mencatat lebih dari 150 juta pengguna aktif harian, sementara Horizon Worlds hanya mampu meraih ratusan ribu pengguna aktif bulanan. Ketimpangan ini membuat Meta mulai mengubah pendekatan, dengan mencoba meniru model dunia virtual yang lebih ringan dan berorientasi hiburan.

Horizon Worlds Beralih ke Arah Mobile

Meta bahkan mengarahkan Horizon Worlds untuk bertransformasi menjadi aplikasi seluler. Menurut analis CCS Insight, Ben Hatton, langkah ini masuk akal mengingat stagnasi penjualan headset VR dan dominasi mobile gaming dalam lima tahun terakhir.

Pendekatan ini menunjukkan pergeseran dari visi futuristik berbasis perangkat khusus menuju strategi yang lebih realistis dengan memanfaatkan ekosistem ponsel pintar yang sudah matang.

AI Menjadi Poros Baru Strategi Meta

Seiring redupnya metaverse, Meta justru meningkatkan agresivitas di bidang AI. Zuckerberg diketahui menggelontorkan dana besar untuk merekrut talenta AI papan atas, termasuk investasi USD 14,3 miliar untuk merekrut pendiri Scale AI, Alexandr Wang, yang kini memimpin strategi AI Meta.

Baca Juga  Google Flow Perbarui AI Studio dengan Nano Banana dan Veo 3.1, Kreator Kini Bisa Buat Cerita Visual Terpadu

Belanja Modal Naik Tajam

Pada Oktober 2025, Meta menaikkan proyeksi belanja modal tahun 2025 menjadi USD 70–72 miliar, sebagian besar diarahkan untuk infrastruktur AI. Pada periode yang sama, Vishal Shah, yang selama empat tahun memimpin proyek metaverse, dipindahkan menjadi Wakil Presiden Produk AI.

Langkah ini menegaskan bahwa AI kini menjadi tulang punggung masa depan Meta, baik untuk produk konsumen maupun persaingan langsung dengan pemain besar seperti OpenAI dan Google.

Wearable AI Jadi Titik Terang Meta

Meski VR belum membuahkan hasil, Meta mencatat performa lebih positif pada perangkat wearable AI, terutama melalui kemitraan dengan EssilorLuxottica. Produk Ray-Ban Meta menjadi contoh nyata bagaimana AI bisa diintegrasikan ke perangkat sehari-hari.

Pada September lalu, Meta meluncurkan kacamata Meta Ray-Ban Display seharga USD 799, yang dilengkapi layar mini untuk menampilkan pesan dan pratinjau foto. Produk ini dinilai lebih dekat dengan kebutuhan konsumen dibanding headset VR yang masih tergolong niche.

Kerugian Besar dan Evaluasi Ulang Strategi

Sejak akhir 2020, divisi Reality Labs mencatat kerugian kumulatif lebih dari USD 70 miliar. Angka ini menjadi beban besar bagi Meta dan memaksa manajemen melakukan evaluasi strategis secara menyeluruh.

Baca Juga  Menguak Teknologi Galai Raksasa Helenistik 'Tessarakonteres'

Di sisi lain, Meta juga tengah berupaya menyusun arah AI yang lebih jelas. Perusahaan dikabarkan akan merilis model AI terbaru dengan nama kode Avocado pada kuartal pertama tahun ini sebagai bagian dari upaya mengejar ketertinggalan dari para pesaing.

Kesimpulan

Peralihan fokus Meta dari metaverse ke AI mencerminkan realitas keras industri teknologi: visi besar harus tetap diuji oleh pasar. Meski metaverse belum sepenuhnya ditinggalkan, prioritas Meta kini jelas berada pada AI dan wearable cerdas yang dinilai lebih relevan secara bisnis.

Langkah ini menandai babak baru bagi Meta, sekaligus menjadi pelajaran penting bahwa inovasi teknologi tidak selalu berjalan sesuai rencana awal.

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *