Info Tekno > Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi lahirnya Neural Standby Kernel (NSK), sebuah proyek open source eksperimental yang mencoba menantang asumsi lama bahwa General Purpose Operating System adalah satu-satunya fondasi komputasi modern. Alih-alih menumpuk lapisan abstraksi, NSK justru memangkasnya hingga ke level paling dasar: bare-metal execution.
Dalam beberapa tahun terakhir, Artificial Intelligence berkembang sangat pesat, bukan hanya dari sisi model dan algoritma, tetapi juga dari kebutuhan infrastruktur komputasi yang semakin spesifik. Salah satu pertanyaan menarik yang mulai muncul di kalangan system programmer dan peneliti performa tinggi adalah: apakah sistem operasi umum seperti Linux benar-benar ideal untuk menjalankan inferensi AI dengan latensi ultra-rendah?
Ketika Sistem Operasi Umum Menjadi Hambatan
Linux, Windows, dan sistem operasi modern lainnya dirancang untuk melayani beragam kebutuhan sekaligus. Dalam satu waktu, sistem harus mampu mengelola jaringan, antarmuka grafis, penyimpanan, multitasking, hingga manajemen daya. Pendekatan ini sangat masuk akal untuk penggunaan sehari-hari, server, maupun desktop.
Namun, untuk beban kerja AI tertentu—terutama inferensi real-time—fleksibilitas ini justru menghadirkan konsekuensi performa. Context switching, scheduler, dan interrupt yang terus berjalan dapat memperkenalkan jitter dan latensi yang sulit diprediksi. Bagi aplikasi AI yang membutuhkan respons deterministik dalam hitungan mikrodetik, gangguan sekecil apa pun bisa menjadi masalah serius.
Dari sinilah muncul gagasan mendasar NSK: bagaimana jika model neural network dijalankan langsung di atas hardware, tanpa sistem operasi konvensional sebagai perantara?
Visi Neural Standby Kernel
Neural Standby Kernel bukan ditujukan sebagai pengganti Linux atau sistem operasi umum lainnya. Proyek ini lebih tepat dipandang sebagai laboratorium arsitektur untuk mengeksplorasi bagaimana AI dapat berjalan di lingkungan yang sepenuhnya terkendali.
Visi utama NSK mencakup tiga prinsip dasar:
- Booting sangat cepat, hanya dalam hitungan milidetik.
- Isolasi core CPU khusus, sehingga satu atau beberapa core didedikasikan sepenuhnya untuk eksekusi AI.
- Eksekusi langsung instruksi AVX/SIMD, tanpa overhead kernel tradisional.
Pendekatan ini memungkinkan pengembang mengontrol hampir seluruh aspek eksekusi, mulai dari manajemen register hingga perilaku cache CPU.
Fondasi Teknis di Balik Neural Standby Kernel
AVX-Enabled Boot pada Level Assembly
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan kernel modern adalah mengaktifkan fitur CPU lanjutan sejak fase boot awal. NSK ditulis menggunakan kombinasi C dan Assembly x86_64, memungkinkan kontrol penuh terhadap register CPU yang biasanya disembunyikan oleh sistem operasi.








Responses (2)